GENG
REMAJA DAN PENGAWASAN DILUAR PENDIDIKAN
Fenomena geng remaja
sudah menjadi hal biasa dan tak asing lagi di masyarakat. Berbagai
jenis geng remaja seperti geng motor sebagai bentuk kumpulan remaja
yang didominasi para pelajar merupakan fenomena perilaku pelajar.
Meskipun sama sekali bukan hal baru, namun geng remaja mencuat ke
publik berkenaan dengan isu dan praktik kekerasan yang lekat
dengannya. Perkelahian pelajar, penyalahgunaan narkotika, dan
pergaulan bebas sudah tidak asing lagi menjadi label pada remaja.
Sebenarnya bila remaja berkumpul dan berkelompok, itu merupakan hal
yang lumrah. Masalahnya ketika berkumpulnya mereka itu mengarah pada
hal yang destruktif. Sebagaimana lazimnya manusia, kalangan remaja
juga membutuhkan komunitas untuk berkomunikasi dan bersosialisasi,
mereka akan merasa nyaman untuk berkomunikasi dengan sesama.
Lebih
parah lagi, bila tujuan yang kurang atau tidak baik memang telah
ditetapkan dan disepakati bersama anggota geng untuk dilaksanakan.
Patut diduga, remaja memilih geng sebagai saluran organisasinya
karena organisasi remaja yang sudah establish
barangkali tidak mampu untuk mewadahi mereka. Atau lebih dari itu,
organisasi bersegmen remaja tidak dapat menjangkau dan melayani
kebutuhan mereka. Remaja adalah masa dimana mereka membutuhkan wadah
untuk berapresiasi dan berekspresi. Sepanjang organisasi remaja tidak
mampu memenuhi itu, maka ia akan ditinggalkan.
Mereka
lebih suka memikirkan hal yang dekat, terjangkau, dan berbau
senang-senang. Hal itu masih wajar bila mereka tidak terjerembab pada
pilihan yang jelas negatif. Remaja memang memiliki dunianya sendiri
yang berbeda dengan dunia dewasa. Yang diperlukan adalah kontrol dan
pengarahan mereka untuk selalu berada pada jalan yang benar. Pun
kebenaran itu tidak harus diperspektifkan sebagai hal yang kaku dan
tidak berwarna. Biarlah remaja tetap berada dalam dunia keremajaan
dan keceriannya, sepanjang dalam batasan yang tidak kebablasan
(musrif). Remaja pada dasarnya juga memiliki naluri sehatnya sendiri
versi mereka, sungguhpun bagi kalangan tua (yang kolot) kadang banyak
hal yang dilakukan remaja hari ini tampak asing, aneh, dan dianggap
melanggar.
Remaja
adalah pribadi yang gelisah. Peranan dan posisi organisasi remaja
seharusnya mampu menjadi pelarian (dalam artian positif) bagi
kegelisahan mereka. Remaja banyak yang merasa kesepian dan
membutuhkan pendamping, di luar orang tua dan guru mereka. Apalagi
dalam satu kasus ketika orangtua tidak cukup waktu untuk
berkomunikasi dengan anak dan guru hanya dapat mengajarkan mata
pelajaran secara teks
book
semata. Organisasi sekolah (OSIS dan ekstrakurikuler) harus mampu
melakukan reorientasi program dan kegiatan yang mempunyai sense
(manfaat) kuat terhadap kebutuhan remaja. Kalau ini terpenuhi, maka
remaja akan merasa memiliki teman yang mengasyikkan namun sekaligus
mampu memberikan guidance.
Maraknya
geng remaja yang bersifat destruktif dilihat dari sudut pandang lain
juga merupakan wujud kegagalan pendidikan. Betapa para pelajar tidak
cukup hanya diajari mata pelajaran tertentu atau hanya didorong hanya
untuk lulus ujian. Berdasarkan hal tersebut pendidikan tengah
mengalami proses involusi dan bergerak tanpa arah yang jelas. Dari
hari ke hari manusia yang terlibat dalam pendidikan bukannya tumbuh
kian cerdas, tetapi mutunya semakin menurun meski input dan fasilitas
fisiknya terus bertambah. Ketidakjelasan arah pendidikan itu
menyebabkan pendidikan tidak kompetitif. Pelajar membutuhkan sesuatu
yang lebih dari moral dan etika secara practical.
Pendidikan hanya melanjutkan pendidikan yang elite eksklusif dengan
kurikulum elitis yang hanya bisa ditangkap oleh sebagian pelajar.
Apabila
proses involusi yang tengah terjadi dalam pendidikan dibiarkan terus
berlangsung akan berdampak pada terciptanya bangsa paria
(bangsa yang rendah) yang mencerminkan betapa miskinnya pemikiran dan
kacaunya penyelenggaraan pendidikan.
Karenanya,
pendidikan harus benar-benar diarahkan untuk tidak sekedar menggenjot
capaian pada aspek kognitif semata, namun harus diseimbangkan dengan
aspek afeksi dan psikomotorik. Nilai bagus memang penting, namun
tentu tidak hanya itu. Pengajaran dan pemantauan terhadap budi
pekerti pelajar juga tidak kalah penting untuk dilakukan secara
intensif. Bagaimana dengan Ujian Nasional (UN)? UN dalam satu sisi
memang mampu memicu siswa untuk belajar. Namun pertanyaannya, apakah
itu terjadi karena terpaksa atau memang kerelaan. Asumsi sementara
pelajar cenderung terpaksa, karena itu mereka merasa stres dan
tertekan. Kondisi stres inilah yang kemudian mengarahkan para pelajar
untuk mencari pelampiasan dan ruang untuk refreshing. Informasi soal
kenaikan nilai UN mau tidak mau akan semakin menambah rasa stres itu.
Dan semakin mereka stres, tuntutan dari dalam diri untuk mencari
tempat pelarian akan semakin besar. Termasuk penambahan mata
pelajaran yang diujikan dari hanya tiga pelajaran menjadi enam
pelajaran.
Sekolah
merupakan lembaga pendidikan yang seharusnya mampu mencetak generasi
yang siap menghadapi tantangan zaman. Kesiapan itu tentu bukan semata
pada wilayah capaian nilai formal. Maka sekolah harus mampu melihat
dan memperlakukan pelajar sebagai pribadi yang utuh. Tidak pas kalau
sekolah hanya menuntut siswanya untuk belajar dan belajar untuk
memenuhi target angka. Karena para pelajar harus dikenalkan untuk
mempelajari kehidupan yang sesungguhnya. Kondisi terpaksa dan
tertekan pelajar tetap berlangsung, maka ini jelas tidak akan
menyehatkan. Bagaimana mungkin kondisi tertekan akan melahirkan
generasi yang cerdas dan tanggap lingkungan? Kalau hal semacam ini
akan tetap dipertahankan, maka kita patut khawatir bila geng remaja
dengan aura kekerasannya akan semakin marak yang dapat menciptakan
bangsa yang paria.
Semoga tidak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar