DUNIA
Kita
berpagi hari sebagai orang bermain-main
jika kita tidak berpegang pada agama. Dan kita
hidup dan mati dalam keadaan bermain-main jika kita tidak dalam
keadaan berpegang dalam agama.
Hakikat
dunia dan akhirat ditegaskan dalam firman
Allah SWT, yang artinya :
''Ketahuilah bahwa
sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta
berbangga-bangga tentang banyaknya harta
dan anak . . . . . .[QS.
Al Hadiid :(57) 20]
Dunia hanya polesan luar
yang terlihat kinclong dan mengkilap, akan
tetapi, kehidupan yang hakiki dan kekelan hanya ada di akhirat.
Sebagaimana kita ketahui Rosullullah lapar
di dunia, sedang kisra, raja persia dan kaisar
romawi, mati kekenyangan karena banyak makan dan minum. Bagaimana
Rasululloh tinggal di rumah yang terbuat dari tanah liat, sedang
kisra dan kaisar tinggal di gedung yang berhiaskan perak, emas dan
bertaburan intan permata.
Ketika
‘Umar melihat Rasulullah SAW berbaring di
atas tikar, sedang anyaman tikar dan kain spreinya yang kasar
membekas pada lambungnya. ‘Umar melihat keadaan itu, air matanya
bercucuran. Rasulullah
pun bertanya kepadanya: “Mengapa kamu
menangis hai ‘Umar?” Umar menjawab: “
wahai Rasulullah,
Kisra dan Kaisar
adalah musuh-musuh Allah sebagaimana yang telah engkau ketahui dan
engkau adalah utusan Allah serta
kekasihNya, sedang engkau dalam keadaan seperti ini. “
Rasulullah
pun bersabda :
“Apakah
engkau masih ragu, hai Ibnu Khaththab ? tidakah engkau merasa puas
jika bagi mereka hanya dunia ini dan bagi kita akhirat ?”
(HR.
Bukhori, Muslim, Ahmad
dan Tirmidzi)
Imam
Syafi’i RA mengatakan dalam sebuah
syair “Surga
mati di hutan belantara karena kelaparan sedang daging kambing hutan
di makan oleh anjing- anjing liar”.
Demikianlah
hikmah Tuhan yang maha pencipta. Dia
tidak memberikan agama ini kecuali kepada
orang yang disukainya. Adapun mengenai duniawi, Dia memberikannya,
baik kepada orang yang disukainya. Bahkan dia memberikannya sekalipun
kepada orang zindiq yang atheis, orang munafik militan dan orang yang
fasiq yang parah kefasikannya.
Di ambil sebagian
dari buku karangan Dr. Aidh bin
Abdullah Al Qarni yang berjudul “CAMBUK
HATI”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar